Kamis, 24 Maret 2011

SRI.....System of Rice Intensification.......boleh di Plesetkan jadi SISTIM RODOK IRIT

Petani kita sangat mengenal dewi SRI yang konon adalah dewi yang menaungi kehidupan padi di sawah,...seiring dengan perkembangan jaman,dinamika pertanaman padi mulai berubah. Petani berharap mendapatkan hasil tinggi, alih-alih malah banyak yang merugi. Penggunaan pupuk kimia tanpa disadari malah membuat sawah-sawah petani merana, bantat, miskin hara dan kurang bahan organik justru kaya bahan kimia yang merugikan tanah sawah petani.Hasil penelitian Dinas Pertanian menyatakan bahwa kisaran bahan organik di Jawa Tengah dan Jawa Timur 1,8-2 %...sangat kecil dari nilai minimal kandungan 5% yang harus ada.

Berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah seperti memberikan teknologi terbaru Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) hingga jajar legowo terus dilakukan. Akan tetapi merubah perilaku petani yang sudah mengakar kuat sangat sulit dilakukan. Canangan GO Organik tahun 2010 sudah dilakukan, bahkan diundur sampai 2013 untuk menyiapkan petani kita.
SRI (system of rice intensification) mencoba menunjukkan eksistensinya. Banyak demplot sudah dilakukan oleh Dinas Pertanian di Indonesia dengan segala hasil dan potensinya. Di Jawa Tengah bahkan sudah dilakukan hampir diseluruh wilayah meskipun hanya split-split saja ukurannya, namun mampu memberikan gambaran bahwa sistem ini sangat baik untuk menolong petani kita.
Hasil Tanam Padi SRI di Purworejo

Saya...Melulosa AS bersama dengan teman-teman seperjuangan berupaya peduli pada petani, meskipun dengan terseok-seok, banyak cercaan di mana-mana tetap melakukan sosialisasi sistem SRI ini. Hasilnya mampu mendongkrak hasil produski menjadi naik 50-100% dari biasanya. Di Jombang bahkan oleh Dinas Pertanian diplesetkan menjadi SISTEM RODOK IRIT untuk menarik petani agar melaksanakan sistim tanam ini. Saya bekerja sama dengan Dinas Pertanian berupaya sedikit demi sedikit untuk merubah budaya petani konvensional menjadi budaya petani modern yang berwawasan lingkungan.

AYO...SIAPA MAU IKUT>>>>>>>>>>>>>>>>>>>????????

1 komentar:

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM
    KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia, NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) , dengan produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahuin yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Solusi yang lebih praktis dan sangat mungkin dapat diterima oleh masyarakat petani kita dapat kami tawarkan, yaitu: BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON /NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS ( EM16+) + Sistem Jajar Legowo.
    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    CATATAN: Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    Semoga Indonesia sehat yang dicanangkan pemerintah dapat segera tercapai.
    Terimakasih,
    Omyosa -- Jakarta Selatan
    02137878827; 081310104072

    BalasHapus